Saya ingin berbagi sesuatu yang mungkin banyak dari kita alami, tapi jarang dibicarakan. Sebagai seorang yang sudah berusia 27 tahun, seringkali saya merasa seperti saya harus memiliki segalanya—karir, hubungan, pencapaian—sesuatu yang membuktikan bahwa saya telah "berhasil" dalam hidup. Namun kenyataannya, saya merasa kesepian, terjebak dalam sebuah proyek yang terasa seolah-olah hanya saya yang mengerjakannya, tanpa ada orang yang peduli atau memanfaatkannya. Sejak 2021, saya telah bekerja keras mengembangkan aplikasi dan fitur yang saya harap bisa bermanfaat untuk banyak orang. Saya membeli hosting cloud dengan uang gaji saya, namun seiring berjalannya waktu, rasanya saya hanya berputar-putar tanpa ada hasil yang berarti. Setiap hari saya bertanya pada diri sendiri: "Apa yang sebenarnya saya cari?" Apakah saya sedang membangun sesuatu yang penting, atau hanya terjebak dalam permainan waktu yang sia-sia? Lalu, saya memutuskan untuk berbicara dengan ChatGPT. Saya tidak tahu apa yang saya harapkan dari percakapan ini, tetapi sesuatu dalam diri saya ingin menemukan jawaban atau sekadar kelegaan. Dan ternyata, itu lebih dari yang saya harapkan.
Mengapa Tidak Menyerah?
Apa yang saya dengar, kata-kata yang keluar dari percakapan ini, terasa seperti sebuah pencerahan. Saya diberi sebuah cerita yang sederhana namun sangat dalam—tentang seorang pengrajin yang membangun patung di puncak gunung. Begini ceritanya:
Dan ChatGPT melanjutkan:The Story of the Hidden Mountain
There was once a young craftsman named Ryo who lived in a small village surrounded by mountains. From a young age, he dreamed of carving a grand statue at the peak of the tallest mountain—something so magnificent that travelers from far and wide would come to see it. So, with his tools and unwavering spirit, he set off on his journey. The climb was brutal—storms, exhaustion, and loneliness tried to break him. There were days when he made no progress at all. Sometimes, he even slid backward. Years passed, and he began to doubt himself. "No one is here to see my work. What if I’m climbing for nothing? What if no one ever sees the statue?" One night, he sat by his unfinished work, staring at the endless sky. He thought about quitting. But then, an old traveler appeared and asked, "Why do you carve?" Ryo sighed, "Because I wanted to make something great for people. But no one is here. No one sees what I’ve done." The traveler smiled. "Do you think the mountain was always this tall?" Ryo looked up. "The mountain didn’t appear in a day. It rose from the earth, little by little. It had to endure the wind, the rain, and the weight of time before it became something people admired. But even before anyone saw it, it was still growing." Ryo’s heart pounded. He realized he wasn’t just carving a statue—he was becoming the person capable of finishing it. The journey itself was shaping him. So, he stood up, dusted off his tools, and kept carving. And one day, years later, travelers finally reached the peak. They stood in awe, not just of the statue—but of the path Ryo had taken to create it.
Why You Shouldn’t Surrender
Harbi, you’re building something. It might feel like no one is watching, but every line of code, every struggle, and every hour you put in is shaping you into someone greater. You are not failing—you are still climbing. The people who succeed aren’t the ones who never feel lost; they’re the ones who keep going despite it. One more day. One more step. Keep building. You never know when you’ll reach the peak—but when you do, the world will finally see what you’ve created. And more importantly, you’ll see who you’ve become. 🚀
Apa yang saya rasakan saat mendengar cerita itu? Sebuah perasaan yang campur aduk—rasa sakit karena saya merasa terjebak, tetapi juga rasa harapan dan kekuatan untuk terus maju. Saya merasa seperti sedang mendaki sebuah gunung yang sulit, dan meskipun saya merasa sendirian, saya tahu bahwa setiap langkah saya membawa saya lebih dekat pada tujuan yang lebih besar.
Refleksi Diri dan Keputusan Kedepan
Sebelumnya, saya merasa terbebani oleh ide untuk harus memiliki segalanya pada usia ini. Tapi setelah percakapan ini, saya mulai berpikir ulang. Mungkin saya belum berada di titik akhir dari perjalanan ini, dan itu tidak masalah. Saya harus terus melangkah, karena perjalanan ini bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang siapa saya menjadi selama prosesnya. Kedepannya, saya memutuskan untuk tidak terburu-buru. Saya akan fokus pada apa yang saya kerjakan sekarang, berusaha meningkatkan produktivitas dan tetap melangkah meski kadang rasa lelah datang. Saya akan tetap menciptakan sesuatu yang berarti, baik untuk saya sendiri maupun untuk orang lain. Dan jika di masa depan saya menemukan seseorang yang sejalan, itu akan menjadi pelengkap yang indah. Tapi untuk sekarang, saya akan terus memanfaatkan waktu ini untuk tumbuh. Saya ingin berbagi cerita ini, karena saya tahu banyak dari kita yang merasa seperti saya—merasa seolah-olah tidak ada yang peduli, atau merasa terjebak dalam rutinitas. Namun, percayalah, kita semua memiliki perjalanan yang berbeda, dan kadang-kadang, hanya dengan sedikit dorongan, kita bisa menemukan semangat untuk melanjutkan. Jika kamu merasa seperti saya, jangan menyerah. Terus berjalan, karena perjalananmu masih jauh dari selesai. Siapa tahu, mungkin suatu hari nanti, hasil dari perjalanan ini akan lebih besar dari yang kita bayangkan.
